Pada abad ke 16 (± tahun 1615) yaitu masa kerajaan Mataram yang berpusat di Kota Gede (sekarang Yogyakarta), pada masa itu terjadi kericuhan yang disebabkan masuknya berandal (musuh) yang akan menggulingkan pemerintahan Mataram. Karena hebat/saktinya musuh menyebabkan banyak punggawa keraton (jawa = pejabat kerajaan) tidak mampu menanggulangi atau melawan, sehingga banyak yang lari dari kerajaan Mataram tanpa arah dan tujuan yang jelas (jawa = langlang buana). Salah satunya yaitu R.M. Djagat Winata lari ke arah barat dan sampai di sebuah wilayah yang masih berupa hutan belantara dengan kondisi tanah rendah dan sering banjir.

R.M. Djagat Winata gigih dalam babat hutan belantara tersebut, yang diceritakan dia bertarung melawan gajah putih (jelmaan arwah penunggu hutan) dan akhirnya menang, sejak itu dia berganti nama Djaja Leksana.

Djaya Leksana menetap di wilayah tersebut dan dengan kegigihannya dalam mengolah tanah, maka wilayah itu akhirnya menjadi sebuah perkampungan yang diberi nama Dukuh Binangun sekaligus beliau memimpin dukuh tersebut.

Seiring berjalannya waktu wilayah tersebut sering banjir dan banyak sekali keong (jawa = siput) maka sejak saat itu oleh Djaja Leksana wilayah tersebut diganti nama Dukuh Pekeyongan.

Sebagai kerabat keraton, Djaja Leksana tetap melestarikan adat keraton yaitu gendhing jawa (uyon-uyon) untuk mengisi waktu kosongnya dan akhirnya itu dijadikan sebagai tradisi setiap memulai pengolahan tanah untuk bercocok tanam.

Pada waktu yang sama datang Joko Pengalasan juga dari kerajaan mataram di suatu wilayah dekat Dukuh Pekeyongan yang juga masih hutan belantara kemudian Joko Pengalasan membabat hutan belantara tersebut menjadi suatu perkampungan dan di perkampungan tersebut Joko Pengalasan membuat Masjid serta menyebarkan ajaran Agama Islam, kemudian perkampungan tersebut diberi nama dukuh Keputihan (Mutian).

Karena Joko Pengalasan tidak suka pada suara gamelan, beliau pun sangat-sangat arif dan tidak fanatik pada gamelan, namun beliau ingin ketenangan dalam melaksanakan syiar Islam, beliau pun tidak melarang dengan suara gamelan (uyon-uyon) yang dilantunkan oleh Djaja Leksana setiap memulai pengolahan tanah untuk bercocok tanam, kemudian Joko Pengalasan menyerahkan kepengurusan Masjid tersebut kepada salah satu santrinya yang bernama Imam Benawi untuk meneruskan Syiar Islam dan beliau mengungsi ke daerah yang sunyi untuk meneruskan syiar Islam. Beliau lalu melakukan babad desa sambil menyebarkan agama Islam dan akhirnya mendirikan Masjid lagi, sampai beliau melaksanakan ziarah haji. Sepulang dari ziarah haji beliau diberi nama Almaghfurlloh Syeh Haji Abdul Awal, di daerah yang dikenal dengan sebutan Waru Amba (Kedung Amba) yang lokasinya di Desa Kebonsari.

Walaupun demikian beliau pun tetap memantau perkembangan syiar Islam di Dukuh Keputihan (Mutian). Di dukuh ini pun perkembangan agama berjalan lancar berkat ketekunan Imam Benawi yang dibantu oleh temanya yaitu Khasan Mufakat yang juga sebagai Lurah di Dukuh Keputihan (Mutian).

Khasan Mufakat pun akhirnya ikut mengelola Masjid di dukuh Keputihan, walaupun demikian beliau tetap aktif dalam tata pemerintahan dan kerjasama dengan dukuh lain. Seperti dukuh Keputihan dengan dukuh Pekeyongan saling mengisi, sampai-sampai Demang Djaja Leksana setiap setor upeti ke kraton (asok Glondong peng arem-arem) memerintah Khasan Mufakat. Pada masa Kasultanan (Kerajaan) Mataram Khasan Mufakat juga dijadikan sebagai Kowamudin (Kaum) sebagai penegak Agama berkat dari kearifan dan sosialnya yang tinggi sehingga di dukuh Keputihan menjadi pondok (tempat menuntut ilmu agama).

Disamping bekerja sama dengan dukuh Pekeyongan Khasan Mufakat juga menjalin kerja sama dengan dukuh Pendil. Sebagai pemegang pemerintahan (Lurah) Pendil (Tirta Djaja), beliau juga masih karabat dengan Kolo Marto (ajudan dari Demang Djaja Leksana). Dalam kerja sama antar dukuh setiap ada acara resmi tahunan yang diadakan di dukuh Pendil, Khasan Mufakat dan Kolo Marto juga diundang. Acara tahunan tersebut adalah mengolah tanah untuk bercocok tanam di dukuh Pendil dengan mengadakan selamatan dengan memotong kambing. Selamatan tersebut dengan maksud mohon pada yang maha kuasa, semoga kaum tani dalam bercocok tanam hasilnya akan membawa berkah bagi kaum petani di dukuh Pendil khususnya dan dukuh lain di sekitarnya. Akhirnya acara tersebut dinamakan “SELAMATAN SEDEKAH BUMI”. Di samping selamatan ini, juga masih ada lagi yang lain seperti selamatan yang dilaksanakan pada bulan Sura (Tahun Baru Saka) yang dinamakan “SELAMATAN SURAN”. Pada acara selamatan ini tidak hanya di dukuh Pendil saja, tetapi juga diadakan di dukuh Pekeyongan.  Dan akhirnya dipadukan dengan Tahun Baru Hijrah, pada saat acara selamatan ini tiap kepala keluarga berkumpul di kelurahan (di rumah bapak kepala dukuh) setelah berkumpul mengadakan do’a bersama. Pada dasarnya selamat ini untuk mengarah pada seseorang setiap saat memanjatkan puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beliau juga menghimbau pada masing-masing warga agar acara ini dilestarikan.

Di sekitar Dukuh Pekeyongan, Keputihan dan Pendil masih ada dukuh lain yaitu dukuh Jalasida dan dukuh Rendeng. Dari masing-masing dukuh tersebut juga ada Kepala Dukuh jaman dulu disebut Lurah.

Walaupun sudah jauh dari daerah Kerajaan Mataram mereka tetap yakin dan mengakui adanya Pemerintahan Mataram, namun setelah aman dari gangguan brandal,  karena Djaja Leksana adalah orang yang berwibawa dan disegani akhirnya dari kelima lurah tersebut mengangkat Djaja Leksana menjadi Demang, orang jawa bilang Glondong yang membawahi masing-masing lurah.

Lama kelamaan wilayah ini masuk wilayah Kadipaten Karanganyar (Kabupaten Karanganyar), pada saat itu sebagai Adipati (Bupati) adalah Kanjeng Syeh Khadis. Setiap ada Pisowanan (rapat agung) di Kabupaten, Demang Djaja Leksana yang mewakili ke 5 (kelima) lurah tersebut.

Pada akhirnya setelah ada kemajuan, dari masing-masing lurah sepakat untuk menanggulangi kericuan atau gangguan dari luar (penjahat) yang mau meresahkan warga masing-masing dukuh tersebut. Akhirnya terjadi kesepakatan dari kelima lurah dukuh tersebut untuk mendirikan Desa agar mempunyai kekuatan dalam menjaga ketentraman warganya. Setelah tergabung menjadi satu desa, maka diadakanlah suatu rapat (berembug) sesuai dengan semboyan dari punggawa-punggawa Kraton atau para winasis (tokoh-tokoh agung) yaitu bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Berdasarkan semboyan tersebut, maka masing-masing lurah dengan “sa yeg sa eko proyo” (membangun desa bersama-sama kita akan Jaya/Mulya) akhirnya terbentuklah desa yang dinamakan Sidomulyo.

Untuk memegang pemerintahan akhirnya mengadakan kesepakatan antara lurah-lurah yaitu : Demang Djaja Leksana wilayahnya dukuh Pekeyongan I (Binangun, Karang Kemiri) dan Pekeyongan II (Kali Mundu, Pekeyongan), Iman Benawi lurah Keputihan (Dukuh Mutian), Lurah Pendil, Lurah Jalasida dan Lurah Rendeng sepakat bahwa Djaja Leksana menjadi Lurah Sidomulyo (Kepala Desa) yang pertama dan secara resmi Pemerintah Mataram juga mengangkat Djaja Leksana sebagai Demang (Glondong) membawahi beberapa lurah.

Setelah Demang Djaja Leksana tidak mampu memangku pemerintahan, selanjutnya digantikan oleh Kolo Marto, yang sebelumnya adalah ajudan dari Demang Djaja Leksana. Setelah pemerintahan Kolo Marto berakhir, maka Huda Widjaja diangkat sebagai Demang.

Setelah Pemerintahan Demang Huda Widjaja untuk pengangkatan Kepala Desa diadakan pilihan dengan cara (sistem) orang jawa bilang dodokan (Jongkokan) yaitu dari beberapa calon Lurah (Kepala Desa) berdiri lalu pemilih yang suka pada calon tersebut ndodok (Jongkok) di belakang calon tersebut. Tradisi pemilihan Lurah (Kepala Desa) sistem Jongkokan (dodokan) sampai dengan tahun 1922.

Pada waktu pemilihan Kepala Desa KARSA (Karso Wiyono) terdapat calon lain yaitu Kramantika. Dan yang terpilih menjadi Kepala Desa pada waktu itu adalah Karso Wiyono. Karso Wiyono menjabat Kepala Desa Sidomulyo selama 24 tahun berakhir pada tahun 1946.

Pemilihan Kepala Desa setelah pemerintahan Karso Wiyono caranya lain bukan Jongkokan (dodokan) tetapi dengan sistem bitingan (memasukan biting atau lidi ke kotak suara) dan lidinya disediakan oleh Panitia. Pada sistem bitingan ini hak suara antara mantan Kepala Desa dan jiwa pilih lain (masyarakat umum) berbeda, untuk mantan kepala desa mempunyai hak suara 10 (sepuluh) dan untuk  jiwa pilih lain (masyarakat umum) masing-masing 1 (satu) suara. Pada saat pemilihan kepala desa ini sebagai calon Kepala Desa adalah : Mulyo Kartomo, Marikin (Hadi Suyitno) dan akhirnya yang terpilih adalah Mulyo Kartomo yang menjabat Kepala Desa s/d tahun 1985.

Dari tahun 1985 sampai dengan tahun 2002 sistem pemilihan Kepala Desa memakai cara Demokrasi yaitu sistem pemilihan Coblosan memakai tanda gambar atau lambang seperti : tanda gambar Padi, Ketela, Jagung, Kelapa dan lain-lain. Sedangkan pemilihan Kepala Desa pada tahun 2002 sampai dengan sekarang tanda gambar atau lambang diganti dengan foto bakal calon yang dicoblos pada proses pemilihan berlangsung. Seperti pada Pemilihan Kepala Desa pada tahun 2007 tepatnya pada bulan Nopember 2007 dengan 2 (dua) orang calon Kepala Desa yaitu : Ibu Suharsih dan Bapak Suwandi, dan Bapak Suwandi yang terpilih sebagai Kepala Desa Sidomulyo.

 

Sumber: RPJMDes Sidomulyo 2011-2105

Ditulis Oleh :Pemdes Sidomulyo
Pada : 30 April 2014 17:20:39 WIB

Komentar Artikel Terkait

jumiarto keongan.hehehe kidul
16 Oktober 2016 20:23:02 WIB

Berkata, suwun ya lur atas info. .blog..nya..moga makin kreatif ke generasi..

winarto
25 Januari 2016 09:21:40 WIB

Berkata, Makasih gan,,saya jd tau asal muasal desa kelahiran saya,,sidomulyo,dukuh keputihan(mutian).. #winarto(keputihan)

Post Komentar :


Nama
Alamat Email
Komentar